Dalam bahasa Sansekerta Gita artinya Lagu. Blog ini berisi tentang musik-nya si Gita.

Thursday, June 28, 2007

Aku Punya Rahasia...

Well… it’s not a secret at all sih sebenernya… hanya saja aku baru saja mengetahuinya, jadi kuanggap sebagai sebuah rahasia yang telah lama tersimpan di balik tuts warna hitam putih, atau segerombolan orang yang rame-rame menyanyi, atau kawat nilon dan kayu. Ini tentang chord… main gitar, main piano, atau nyanyi di koor pasti ketemu yang namanya chord.

Tadi sore pak guru bercerita tentang chord 13. Itu loh… C13, G13, F13, temen-temennya C9, C11, G9, G11, G7, dst…

Chord 13 itu terdiri dari nada-nada ke-1 . 3. 5. 7b. 9. 11. 13. dari tangga nada.

Terus gimana ngebunyiin-nya?? Jari kita hanya 5 kan? Dan itu pun kalo mau mainin 5-5nya gak mungkin… gak sepanjang itu kali… Jadi, kita harus memilih 4 dari 7 nada itu, pilihlah yang terpenting. Manakah yang terpenting?? Nah dari sini… aku menemukan rahasia di balik chord2 lainnya, sebenernya sudah diketahui oleh orang lain, tapi aku baru menemukan formulasinya yang mudah diingat oleh diriku (kasian yaaa gue…).

Yang penting untuk dibunyikan adalah
Nada ke-13 : namanya juga chord 13, kalo gak dibunyiin, ntar jadi chord 11 atau 9 dunk.
Nada ke-7b : yang ini penting, buat menentukan dia chord Mayor 7 (7 aja) atau dominan 7 (7-nya diturunin 1 semitone, jadi 7b).
Nada ke-3 : buat nentuin dia chord mayor atau minor.
Nada ke-9 : yang ini aku lupa kenapa.

Nah… rahasia yang kutemukan itu adalah soal 7b dan 3 itu. Ternyata dalam chord, nada ke-3 dari suatu tangga nada / scale itu penting banget, untuk menentukan dia mayor atau minor. Bukan berarti nada ke-5 gak penting loh… tapi dia gak membedakan antara mayor dan minor. Kecuali kalo kita ngomong tentang misalnya augmented chord, yang mana 5-nya dinaikkan 1 semitone jadi 5#. Tapi chord augmented kan bukan chord yang sering muncul, mayor dan minor jauh lebih sering muncul.

Terus kalo soal nada 7 atau 7b, itu penting untuk membedakan chord itu dominan 7 atau mayor 7. Hmm… mayor 7 ini dulu gak pernah jadi perhatianku. Aku tauknya C7 aja… gak tauk kalo ada benda yang namanya CM7. meskipun hanya beda 1 semitone di nada ke-7-nya, tapi aura yang dihasilkan jauh berbeda. Dan kemaren aku pertama kali ngeh bahwa ada chord yang namanya aneh: CmM7 (C minor mayor 7). Haha… itu terdiri dari nada ke-1. 3b. 5. 7. Kalo Cm7 (C minor 7) kan terdiri dari nada ke-1. 3b. 5. 7b.

Oya, satu trick juga diberikan, yaitu untuk chord 11. Gimanakah memainkan chord 11 tanpa banyak ngitung?? Misalnya chord C11, cari nada ke-5-nya: G, terus mainkan Gm7 dengan bass C. Misalnya chord G11, berarti mainkan Dm7 dengan bass G.

Tambah trick lagi, chord kesukaannya pak guru: chord 9. Ini lebih mudah lagi, mainkan chord 7 (dominan 7 maksudnya) terus root-nya (nada ke-1) diganti dengan nada ke-2, tapi tentu saja bassnya tetep harus root dunk. Misalnya C9, mainkan C7 (C. E. G. Bb), tapi C-nya diganti dengan D, jadi D. E. G. Bb, rootnya tetep harus C. G9 juga gitu, jadi A. B. D. F, bassnya di G.

Last but not least… ternyata nih… main lagu jazzy dengan kord-kordnya kriting itu lebih enak kalo berpatokan pada kord-nya, bukannya berpatokan pada toge-toge yang ada di paranada. Aku adalah seorang fans berat dari toge di paranada. Lebih cepet disuruh baca
”paranada dengan toge-toge di kunci F dan G” deh dibandingkan disuruh baca “toge-nya sebaris doang di kunci G, plus chord di atasnya”. Tapi… ternyata kalo urusannya dah kord-kord kriting duren… lebih enak main chord aja. Gak perlu metani (nyari kutu) satu-satu ngeliatin mol dan kres yang rapet-rapet di atas paranada. Main pakek chord itu ibaratnya mengaplikasikan deret hitung dengan pola tertentu. Root-nya aja yang ganti-ganti. Ternyata belajar piano secara “piano pop” itu ada kelebihannya juga ya?

They Got Us Covered

Oya, aku belum bahas soal Two-Part Invention #4-nya Bach yaa, yang di Got You Covered...

Menurut aku sih, lagu itu jadi kehilangan ke-saxophone-an-nya. Maksudnya... saxophone-nya jadi terdengar kurang saxophone, cuma seperti "another woodwind instrument" aja, mirip clarinet. Mungkin karena yang dipakek juga soprano sax, terus mainnya ngebut (emang tempo aslinya segitu sih...).

Nah... ngomong-ngomong Got You Covered! nih...

Sepertinya lagi nge-trend di kalangan para saxophonist untuk mengeluarkan album cover version, alias album yang lagu-lagunya adalah lagunya orang lain. Tadinya kupikir itu hanya terjadi pada Kenny G. Dalam 2 albumnya terakhir (The Duets Album dan The Most Romantic Melodies of All Time), dia memainkan lagunya orang lain. Mostly jazz standard. Makanya tumben-tumbenan aku menyukai album Kenny G, terutama The Duets Album, hmm… apalagi ditambah dengan fakta bahwa The Duets Album dapet gretongan…huehehehe…

Nah, tahun ini aku menemukan sudah 4 album dari artis yang berlainan yang seluruhnya ngambil lagu lama... Setelah awal tahun aku nemu The Most Romantic Melodies-nya Kenny G, terus setelah itu ada album barunya Dave Koz yang sudah ½ tahun kutunggu: At The Movies. At The Movies ini isinya soundtrack film-film jadul. Jadi sudah pasti lagu orang lain kan… termasuk Manusia Bodoh yang agak-agak ngerusak album ini.

Terus hampir bersamaan dengan At The Movies, album barunya Michael Lington juga beredar, A Song For You. Kalo yang ini isinya lagu-lagu tahun 80-an, juga bukan lagu-lagunya dia sendiri. Hmmm… kudunya dia mainin lagunya SKJ 84 sekalian yaa… teng.. teng-teng-teng-teng-teng!!

Terakhir, aku mendapatkan Got You Covered!-nya Eric Marienthal. Sebenarnya album ini gak yang paling baru kalo dibandingkan The Most Romantic Melodies, At The Movies, ataupun A Song For You. Aku sudah lama melihatnya di Disc Tarra. Mungkin sejak April 2006. Pertama ngeh bahwa album ini ada waktu di Disc Tarra BSM. Gak beli-beli, tapi eh tau-tau dateng sendiri ke rumah… huehehehe…

Dari judulnya saja terlihat bahwa dia memang niat memainkan lagu-lagunya orang lain. Bahkan lagunya Johann Sebastian Bach pun diembat.

Ada apa ya? Kenapa mereka rame-rame di saat yang hampir berdekatan membuat album cover version? Mungkin juga memang para penggemar musik ini lagi hobi bernostalgia, atau mulai bosan dengan karya Smooth Jazz mereka? (hee.. aku kurang jelas, kalo si Eric genre-nya Smooth Jazz juga nggak?). Atau mungkin mereka pengen menjaring lebih banyak konsumen, yaitu konsumen Smooth Jazz plus Jazz Standard (untuk si ML, ya lagu tahun 80-an).

Yang pasti aku sebagai pendengar sih seneng-seneng aja, berhubung aku juga penggemar jazz standard jadul. Kalo soal bosan dengan Smooth Jazz, kayaknya sih enggak ya… meskipun mereka memainkan jazz standard (atau 80-an), tapi ciri-ciri smooth jazz-nya masih ada. Kenny G tetep dengan gaya lemesnya, terus Dave Koz tetep dengan liukan-liukan ala You Make Me Smile-nya, kalo soal si ML dan Eric, aku kurang mengenal musik mereka untuk bisa mengatakan apakah ciri-ciri mereka tetap terjaga di lagu-lagu jadul yang mereka mainkan.

Yah, apapun motivasi mereka…terserah lah. Yang penting, mari kita menikmati lagu-lagu jadul…

Seharusnya Aku Gak Melakukan Hal Ini...

....but I couldn't stop myself...

Jadi... suatu hari, aku datang ke tempat les pianoku. Hari itu sebetulnya bukan jadwalnya les piano, tapi aku minta ganti hari karena ada dinas or something. Rada-rada kusut dan bete... sudah lupa, hari itu ada apa di kantor...

Karena bukan hari les, jadi aku nunggu saja sampe pak gurunya kosong. Aku duduk di depan ruang les, di bawah poster-posternya kata mutiara Bidadari Words. Tiba-tiba masuklah mas-mas, gayanya sih kayak orang kantoran... dia masuk ke ruang les vocal, gak jauh dari tempat aku nunggu.

Terus... mulailah lamat-lamat (kan pakek damper ruangannya), terdengar suara minus one lagu Samson, kenangan terindah kalo gak salah. Awalnya sih oke. Tapi... waktu sampe bagian: "Bilaaa... yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu..." mulai deh... terdengar aneh, teriakan-teriakan maksa...

Awalnya aku hanya mengangkat alisku... Hmm?? Apa itu...?? Tapi lama-lama aku ngeh kalo itu suara mas-mas tadi, sedang berusaha mencapai nada-nada tinggi. Gak tahan... Akhirnya aku ketawa sendiri... huahahahahaha... entahlah waktu itu gimana caranya supaya suaraku gak kemana-mana.

Aku masih mikir sih: duh... kok gue jahat banget ya, dia kan lagi belajar, masa' aku ketawain... kalo orang main piano jelek, aku gak pernah ketawain. Anak PSM-ITB masih hijau yang nyanyi fals, aku juga gak pernah ketawain. Tapi yang ini... aku gak bisa nahan diriku untuk tidak ketawa. It really made my day...

Thursday, June 21, 2007

Two Part Invention #4 in D Minor

Aku selalu tertarik pada musik-musik campuran, seperti halnya aku tertarik pada makanan-makanan fusion. Contohnya lagu yang tertulis di judul posting ini: musiknya Bach yang mana dibuat pada jaman Barok, tapi dimainkan dengan saxophone yang merupakan instrumen jaman modern banget. Di orkes simfoni aja gak dipakek tuh saxophone...

Komentarku: hmm... lucu juga. tapi belum bisa banyak nulis ah, baru dengerin 3-4 kali sehari tadi. Nanti aku apdet lagi deh postingnya.

Oya, itu ada di album Got You Covered!-nya Eric Marienthal, seperti judulnya berisi Cover Version lagu-lagunya orang lain.

Lagu yang langsung aku suka adalah I Will. Lagunya The Beatles.

Who knows how long I've loved you
You know I love you still
Will I wait a lonely lifetime
If you want me to--I will.

Ruangan Les Yang Baru

Sapa sing tekun
mesthi bakal tekan
senajan kudu nganggo teken.

Yang artinya:

Siapa yang tekun/rajin
pasti akan sampai di tujuan
meskipun harus menggunakan tongkat.

Tulisan itu merupakan salah satu Bidadari Words yang terpasang di dinding ruangan lesku yang baru (oya, kemaren abis pindah ruangan, karena pianonya yang di ruangan biasa ada nada yang nyengsol). Biasa banget ya? Intinya kalau mau belajar musik, ya harus rajin. Hehe... atau dalam bunyi yang lebih positif dan menyenangkan: apapun alat musik yang ingin dipelajari, asalkan kita gigih, lama-lama nanti akan bisa.

Oya, piano di ruang baru itu merknya Sammick, lebih gak enak dibandingkan Yamaha di ruangan yang lama. Juga lebih gak enak dibandingkan Sammick yang di Sabuga. Dalam keadaan "hyperbolic mode on" kemaren, aku malah ngerasa seperti Casio Privia ketika setting-an hammer-nya dimatikan. Aneh sekali...

Yang pasti... PR lesnya semakin mumet. Setelah berhasil dengan Joy Spring yang chordnya penuh dengan mol dan angka 7, sekarang dapet This Masquerade. Keren banget lagunya... kalo didengerin. Yang ini juga penuh mol, angka 7, tapi ditambah lagi dengan M besar, m kecil, atau tanpa m sama sekali, alias chord Mayor 7, chord minor 7, dan chord dominan 7. Tapi masih untung lah, belum pake angka 9.

Haha... gpp biar aja sulit, ingat! kalo dapet lagu yang gampang terus, namanya bukan les neng, ga ada hal baru yang dipelajari gitu loh. Ayo semangat!!

Thursday, June 7, 2007

Terapi Piano

Duh, AC rusak di kantor benar-benar merusak bodi. Sumuknya hanya sehari, tapi pusingnya 4 hari baru bener-bener hilang. Tadinya seharian pusingnya, terus 2 hari berikutnya hanya sehabis lunch aja. Hari berikutnya lagi, setelah pulang kantor saja. Pusing yang aneh deh pokoknya... dijejelin makanan malah eneg, dipake nonton DVD jadi semakin pusing atau dengerin musik, mbuka laptop wiiih... tambah mumet juga, aktivitas yang mengurangi pusingnya adalah: tidur atau main piano.

Heran juga... kok bisa gitu... waktu aku coba main The Disney Storybook-nya Jim Brickman, tanpa kacamata, tepatnya lagu A Dream is a Wish Your Heart Makes, pusingnya jadi berkurang. Dan yang bikin lebih heran lagi, aku jadi sedikit lebih cerdas main pianonya dibandingin biasanya. Gak begitu banyak kepleset, padahal sambil nyanyi loh. Hal yang sama juga terjadi ketika kemudian mencoba lagu Reflection. Lagu itu jadi gak sesusah kemaren-kemaren.

Gak hanya The Disney Storybook, aku juga coba Pe-Er les piano, yaitu lagu The Joy Spring, duh... lagu kriting dengan kord-kord kriting duren, aku sampe gak pede waktu pertama nerima partiturnya. Kayaknya susah banget gitu loh... Ternyata... pas nyoba pertama kali, gak seserem yang kubayangkan. Asik aja tuh... dan pusing tetap masih berkurang (gak jadi pusing lagi).

Begitu dah capek maen pianonya, aku berhenti. Waktu berhenti => ternyata pusing lagi. Bener-bener pusing yang aneh. Nah... karena biasanya sudah masuk jam yang cukup sah untuk tidur, ya hanya ada 1 solusi kan?? TIDUR...

Hihihi... nemu terapi baru ni jadinya...

Monday, June 4, 2007

Sekarang Tentang Kaki

Kemaren aku sudah mencoba membahas tentang bagaimana meletakkan tangan yang baik di atas piano. Kali ini aku mau membahas tentang bagaimana posisi kaki yang enak untuk bermain piano. Mungkin lebih asik dimulai dari posisi yang gak baik dulu ya…

Aku kalo lagi males-malesan (dan gak ada stranger di rumah), suka duduk di depan piano dengan posisi warteg. Kaki kanan diangkat, trus daguku bersandar di dengkul. Posisi gitu tuh… yang pasti dah jelas salah. Pertama, gak sopan, gak enak diliat (makanya hanya dilakukan kalo gak ada stranger kan). Dah gitu, tangan jadi terhalang betis, jadi gak bebas deh. Gak bagus juga buat anggota badan lainnya, punggung biasanya jadi gak tegak. Akibat dari semua itu: tekanan jari kita jadi kurang kuat, terus juga gak bisa main dengan lincah (kan tangannya kehalangan). Oya satu lagi, kalo kursinya gak kokoh, terus kita maen agak heboh dikit, ntar malah bisa terjerembab ke belakang, karena kaki yang naik tadi mengurangi jatah tempat duduk kita, ujung-ujungnya jadi srimulat deh…

Terus satu lagi posisi yang sering kulakukan adalah bersila di atas kursi piano. Kadang-kadang kedua kaki bersila, tapi biasanya gak bertahan lama, karena dengan bersila, punggung jadi bungkuk (cepet pegel), terus tangan jadi lebih jauh dari keyboard. Umumnya sih, salah satu kaki saja yang disilang, biasanya diduduki, kemudian kaki satunya tetap di bawah. Biasanya kulakukan kalo lagi pengen ke toilet, tapi mesti ngantre, daripada ngantre di depan toilet sambil bengong, mending sambil main piano. Sayangnya hanya bisa dilakukan di rumah, kecuali kalo di mall/kantor juga ada pianonya… Kembali ke posisi sila tadi, yang ini jelas salah, bisa-bisa kesemutan kalau kelamaan duduk seperti ini di atas kursi piano.

Posisi kaki yang benar-benar enak buat main piano adalah telapak kaki kanan berada sedikit di depan telapak kaki kiri. Katanya sih (baca di internet nih) dengan demikian, kita jadi punya sejenis tumpuan, yang membuat kekuatan kita bisa tertuang maksimal ke jari-jari yang sedang memencet tuts. Aku gak ngeh tadinya… trus aku mencoba bermain dengan kaki kanan dan kiri yang sejajar, ketika lagunya agak-agak forte-forte gitu (sehingga butuh power lebih), secara otomatis kaki kiriku mundur dan kaki kananku jadi tumpuan. Hoho… ternyata bener juga ya…

Kenapa mesti sebelah doang, gak bisa kiri dan kanan sekaligus...?? Karena kalo kita bertumpu ke kedua kaki yang sejajar, malah jadi gak seimbang, jatuh ke depan dunk, terus nabrak pianonya… lagi-lagi jadi srimulat. Si kaki kiri harus mundur demi menjaga keseimbangan tubuh kita, macamnya orang mau start lari sprint itu, kaki kanan berada di depan kaki kiri. Kalo kedua kaki sejajar, jatuh lah dia…

Oya, masih ada 1 lagi posisi yang gak pernah (atau sangat jarang) kulakukan, gak tauk bener apa salah, tapi aku heran aja… kok orang lain betah dengan posisi ini: BERDIRI. Apa enaknya coba main piano sambil berdiri? Seperti yang dilakukan Maia Ahmad. Aku pernah sih sekali-dua terpaksa melakukannya, tapi gak enak bok, pegel, terus posisi tangan juga pergelangannya jadi gak lurus. Jadi wagu deh pokoknya…

Ternyata… seperti halnya di tangan, di kaki juga posisi menentukan prestasi. Harus dibiasakan untuk menggunakan posisi yang benar, demi kepentingan kita sendiri, agar tidak terjadi cedera-cedera yang gak perlu, misalnya cedera punggung setelah terjerembab ke belakang, atau cedera tulang punggung gak lurus (ini jangka panjang), selain itu, kalo terjerembab bisa cedera urat malu juga kali yaa… hehehehe…